Manusia terpintar di dunia

Di sebuah pesawat terbang pribadi terdapat seorang pendeta, direktur dan pramuka. Tiba-tiba terjadi guncangan dan pilot tersebut mengatakan kepada ketiga penumpang tersebut bahwa pesawat telah mengalami kegagalan operasi dan akan terjatuh. Dia membawa tiga buah tas ransel dan menjelaskan bahwa hanya terdapat tiga parasut dan disini ada empat orang. 

Sang pilot berkata "saya akan ambil satu, sebab saya memiliki istri dan tiga orang anak yang memerlukan saya." sehabis mengatakan itu ia mengambil satu ransel dan lompat dari pesawat. 

Direktur tersebut dengan cepat meraih satu ransel lagi "Saya harus dapat satu parasut, sebab saya orang terpintar di dunia dan dunia memerlukan otak cemerlang saya." ia pun lompat. 

Pendeta melihat muka anak muda tersebut dan berkata "Saya sudah hidup cukup lama dan telah menikmati hidup, sedangkan kamu masih muda, ambillah parasut terakhir itu dan selamatkan dirimu."

Pramuka tersebut langsung menjawab "tenang pak pendeta, orang terpintar di dunia baru saja mengambil ransel saya dan lompat dari pesawat." 

Be humble...

Optimis vs Pesimis


 “Apa yang anda percayai dalam pikiran anda, kemungkinan besar akan menjadi kenyataan”.

Seorang karyawan menjatuhkan diri pada kursi kayu di sebuah kafe kecil yang bernuansa koboi. Sambil memesan minum pada pelayan, ia pun memberanikan diri bertanya “Hai, saya baru pindah ke kota ini, saya ingin tahu seperti apa sih orang-orang di kota ini?”

  "Memangnya seperti apa orang-orang di kotamu yang sebelumnya?"Tanya pelayan tersebut.

  "Tidak terlalu baik" ungkapnya "bahkan, mereka orang-orangnya sangat tidak sopan."

Pelayan menganggukan kepalanya dan berkata, “sayang sekali, anda akan menemukan orang-orang di kota ini juga seperti itu.” 

Orang kedua juga duduk di sebelah orang sebelumnya, sambil memesan minum ia bertanya pada pelayan "hai, saya baru pindah kesini, orang sini baik-baik gak?"

  "Apakah orang-orang di kota sebelumnya baik-baik?" tanya pelayan.

  "Wah, tentu saja, saya datang dari tempat yang luar biasa, semua orang disana baik-baik, sungguh sulit   
  untuk pindah dari lingkungan baik seperti itu."ungkapnya penuh semangat.

"Oh, anda akan menemukan bahwa orang-orang di sini juga seperti itu."

Mendengar hal tersebut orang pertama marah dan bertanya kembali pada pelayan "jadi sebenarnya orang-orang di kota ini bagaimana sih?"

Pelayan tersebut tersenyum dan berkata "saya tidak tahu, semua itu masalah persepsi, anda akan menemukan bahwa apa yang anda pikirkan menjadi kenyataan" 

Apakah gelas anda setengah penuh atau setengah kosong? apakah anda mencintai pekerjaan anda sehingga hal-hal kecil yang mengganggu anda tidak membuat anda membenci pekerjaan tersebut? 

Seorang yang pesimis akan melihat hal buruk di antara segala hal baik yang terjadi pada dirinya. Mereka membuat setiap keadaan yang mereka hadapi menjadi buruk dan untuk sukses sebagai pesimis mereka harus mencari jalan keluar dari semua keburukan dunia ini. 

Seorang optimis berpikir bahwa jalan menuju sukses adalah sebuah jalan yang penuh rintangan, akan ada saatnya naik, akan ada saatnya turun. Akan ada hal yang baik, akan ada hal yang buruk. Namun, mereka yakin selama mereka tidak menyerah dan terus maju sambil mengambil pengalaman dari kegagalan sebelumnya, pada akhirnya mereka akan sampai ke tujuan mereka. 

Pada kenyataannya baik pesimis maupun optimis keduanya mampu mencapai kebahagiaan. Optimis dan pesimis pada kenyataannya tidak berhubungan dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Florence Littauer dalam bukunya personality plus berpendapat bahwa seorang pesimis (melankolis dan phlegmatis) mampu melihat masalah atau kelemahan dari suatu keadaan yang sering dilewatkan oleh mereka yang optimis (koleris, sanguinis) sehingga membantu dalam penyelesaian masalah. 

Kembali ke hukum pikiran "apa yang anda percayai, kemungkinan besar akan terjadi". Dari hal ini tentunya kita tahu bahwa kita sebaiknya optimis daripada pesimis. Albert Bandura salah satu bapak psikologi dunia menyebutkan bahwa "penentu terbesar dari seseorang akan sukses atau tidak adalah apakah mereka percaya mereka akan sukses atau tidak"

Yang perlu kita perhatikan adalah membedakan apakah kita percaya bahwa kita akan sukses atau percaya bahwa kita akan sukses dengan mudah. Atau bisa dibilang apakah anda seorang realistic optimist ataukah unrealistic optimist. 

Seorang psikolog Gabriel Oettingen bertanya pada sebuah grup wanita yang mengalami obesitas dan sedang menjalani program penurunan berat badan. Ia menemukan bahwa wanita yang optimis akan berhasil ternyata secara rata-rata berhasil mengurangi 13 kilo lebih banyak daripada mereka yang pesimis. 

Oettingen bertanya lagi pada mereka apa ekspetasi mereka pada awalnya tentang perjalanan mereka menuju berat badan ideal ini. Ternyata mereka yang berpikir bahwa mereka akan sulit untuk tidak menahan nafsu untuk makan, mereka akan malas untuk berolah-raga. Ternyata mereka yang optimis dan realistis mengurangi berat badan 13 kilo lebih banyak dibanding mereka yang merasa mereka akan mampu mengurangi berat badan dengan mudah. 

Percaya bahwa jalan mencapai sukses penuh dengan lubang dan bebatuan, bahkan mungkin becek dan banjir, akan membawa diri kita lebih sukses karena mereka memaksa kita untuk bertindak. Kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh apakah mereka pesimis ataupun optimis, kesuksesan seseorang ditentukan oleh tindakan mereka atas keadaan mereka. 



Deja vu, Jamais vu, Presque vu (part 2)

Berlawanan dengan efek deja vu yang sangat populer di masyarakat, jamais vu hampir tidak dikenal oleh kebanyakan orang. Berlawanan dengan Deja vu yang berkaitan dengan perasaan familiar terhadap suatu kejadian, Jamais vu berkaitan dengan perasaan tidak familiar dengan suatu hal padahal pikiran rasional tahu bahwa ia pernah mengalami, melihat, mendengar atau merasakan hal tersebut sebelumnya.

Seorang yang mengalami Jamais vu bisa saja berbicara dengan kawan lamanya dan tiba-tiba kawan lamanya itu terasa asing, seakan-akan mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Perasaan ini mungkin kurang disadari dibandingkan dengan Deja vu yang terasa lebih Wah. 

Fenomena jamais vu ini sebenarnya sering terjadi di saat seorang murid belajar untuk ujian. Dimana ia sedang menghafal sebuah kalimat terus menerus dan tiba-tiba untuk jangka waktu yang pendek ia merasa kalau dia belum pernah mempelajari kalimat tersebut sebelumnya. 

Sebuah penelitian untuk menguji eksistensi jamais vu dilakukan oleh Chris Moulin dari Leed University, ia meminta 92 voluntir untuk menulis kata "pintu" sebanyak 30 kali dalam waktu 60 detik, dan hasilnya 68% dari voluntir mengalami fenomena jamais vu seperti mulai merasa kalau "pintu" itu bukan sebuah kata yang benar-benar ada. Keadaan ini mirip dengan hal yang dialami mereka yang menderita schizophrenia.


Presque Vu

Pernahkan anda ditanya oleh teman anda tentang suatu hal, lalu saat anda ingin menjawab anda lupa apa yang anda ingin katakan. Entah kenapa perasaan ini aneh sebab baru saja kata itu ada di otak anda, lalu saat mau diucapkan ia hilang atau bila tidak hilang sepenuhnya, anda merasa kalau kata itu sudah ada di ujung lidah, tapi tak bisa keluar.

Apa yang anda alami adalah fenomena Presque Vu atau lebih sering disebut Tip of tounge. Ini merupakan fenomena dimana seseorang mengalami kegagalan untuk mengingat sebuah kata dari ingatan kita dan mengeluarkannya, ditambah dengan perasaan dimana perlu untuk mengingat hal tersebut meskipun kita hanya mampu mengingat sebagian dari kata yang ingin diucapkan.

Terdapat dua teori utama yang mencoba menjelaskan fenomena ini yaitu direct access view dan inferential view. Direct Access view menyatakan bahwa ingatan tidak cukup kuat untuk memanggil kata yang diinginkan, namun cukup kuat untuk memanggil kondisi ingat. Sedangkan inferential view menyatakan bahwa subyek menduga kata yang akan diucapkan dan mereka mencari petunjuk dari berbagai ingatan yang dapat diakses saat itu.

Selain kedua teori tersebut masih banyak teori lain yang mencoba menjelaskan Presque Vu. Dan bukan hanya itu, Deja vu dan Jamais vu juga masih menjadi obyek penelitian yang menarik bagi banyak peneliti. Begitu pula dengan banyak lagi fenomena pikiran kita yang begitu luar biasa dan masih perlu banyak dipelajari lagi.







Deja vu, jamais vu, presque vu (part 1)

Suatu hari saya bertemu kawan saya di sebuah kafe di plaza semanggi. Kami mengobrol panjang soal perkembangan dunia training dan hypnotherapy di Indonesia sekaligus nostalgia karena sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba kawan saya berkata "wah saya merasa pernah duduk di sini, ngobrol di sini dengan kata-kata yang persis seperti ini." Apakah ini sebuah kemampuan membaca masa depan kawan saya?

Hal yang terjadi di atas adalah apa yang sering orang bilang sebagai Deja vu. Kata ini berasal dari bahasa Perancis yang artinya "telah melihat". Mereka yang mengalami Deja vu merasa diri mereka seakan-akan pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya padahal kejadian tersebut tidak pernah terjadi di masa lalu.

Edward B, Titchener dalam bukunya adalah sebuah kejadian yang disebabkan karena seseorang melihat sekilas sebuah obyek atau sebuah kejadian, sebelum otak kita selesai mengkontruksi kesadaran penuh atas kejadian tersebut sehingga menciptakan sebuah perasaan mengenal kejadian tersebut.

Clearey seorang psychologist dalam penelitiannya menyatakan bahwa Deja vu merupakan sebuah kejadian yang ilmiah. Ia menjelaskan mengenai fungsi memori yang bernama recognition memory (ingatan). Recognition memory ini membiarkan kita untuk mengetahui apakah apa yang kita lihat, dengar dan rasakan telah kita lihat, dengar dan rasakan sebelumnya atau tidak.

Otak kita mengingat dengan dua cara yaitu rekoleksi (recollection) dan  familiarity. Pikiran kita mengingat secara rekoleksi bila kita dapat dengan jelas mengetahui kapan kita melihat hal tersebut sebelumnya. Misalnya saat kita melihat seseorang di mall dan kita tahu kita pernah berkenalan dengan dia minggu lalu di lift.

Sedangkan familiarity seperti anda melihat seseorang yang sepertinya anda pernah liat sebelumnya, namun anda lupa di mana anda bertemu dengannya. Deja vu oleh Clearey dikatakan sebagai bentuk dari pengenalan bersifat familiarity.

Dalam konsep ini Deja Vu mungkin terjadi karena banyaknya aspek dalam sebuah kejadian yang mirip dan terasosiasi dengan kejadian lain di masa lalu baik apakah kejadian itu memang mirip seperti itu ataukah kejadian tersebut terkonstruksi ulang di ingatan kita sehingga hasilnya mirip dengan kejadian masa kini.

Pada penelitian di MIT's Picower institute for learning and memory Thomas McHugh dan koleganya menyatakan bahwa mereka menemukan penyebab sesungguhnya dari fenomena deja vu ini. Mereka melakukan percobaan atas fungsi sirkuit 'pattern completion' yang merupakan kemampuan manusia untuk mengingat sesuatu hal hanya dengan sebuah petunjuk kecil saja.

Contohnya saat sedang menghitung cashflow saya menemukan bahwa ada kekurangan 200 ribu yang tidak tercatat dan saya lupa saya pakai untuk apa uang tersebut. Tiba-tiba di televisi terdengar suara "menyumbang" lalu saya langsung teringat kejadian tadi siang dimana ada sekumpulan mahasiswa datang meminta sumbangan untuk yayasan kanker.

menggunakan fenomena 'pattern completion' ini McHugh dan kawan-kawannya berasumsi bahwa ada gen yang mengatur 'pattern separation' atau gen yang membedakan sebuah pattern dalam otak. Untuk menyelidiki  hal tersebut maka mereka menggunakan tikus percobaan yang telah diubah secara genetika sehingga tidak memiliki fungsi pattern separation.

Tikus tersebut pun ditaruh dalam sebuah labirin dan di ujung labirin diletakkan sebuah tempat kotak berwarna hitam. Saat seekor tikus sampai ke kotak hitam tersebut maka tikus itu akan terkena kejutan listrik yang menyebabkan tikus itu kaget dan terdiam. Tikus yang telah ubah genetikanya mengalami prosedur itu, lalu ia diletakkan pada labirin yang sama dengan kotak yang sama namun tanpa kejutan listrik.  Alhasil saat tikus itu mencapai kotak tersebut ia terdiam. Dan setelah dicoba berkali-kali tikus itu tetap seakan-akan terkejut listrik di kotak tak berlistrik itu. Berbeda dengan tikus biasa yang dengan cepat menyadari hal tersebut.

Sirkuit otak inilah yang juga menyebabkan deja vu. Dikatakan bahwa sirkuit yang mengatur pattern separation kadang macet sehingga menyebabkan pengalaman yang 'mirip' menjadi seakan-akan 'sama'. Orang biasa tidak mengalami ini sesering orang yang memiliki epilepsi. kekejangan epilepsi meliputi penembakan acak dari neuron yang berada pada lobus temporal, yang juga meliputi hippocampus.

Tonegawa dan McHugh mengatakan bahwa pada masa depan saat kita lebih mengerti mengenai  Hippocampus, maka mungkin bisa diciptakan obat yang dapat meningkatkan kinerja pattern-recognition, yang dapat membantu mereka yang ketakutan karena suatu kejadian yang mirip dengan kejadian buruk di masa lalu. Namun, tentunya obat ini jangan sampai berlebihan sampai menciptakan kebalikan dari Deja vu yaitu Jamais vu...

Bersambung,

Windalfin

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review